Pada tanggal 7 November 2010 Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra (WTSS) menggelar acara Opening Ceremony Eco Ethnic Art Festival, yang merupakan acara perdana sekaligus sebagai acara pembuka dari serangkaian acara Eco Ethnic Art Festival. Acara Opening Ceremony berlangsung di Auditorium Toyib Hadiwijaya Fakultas Pertanian IPB. Sesuai dengan perencanaan waktu yang telah disepakati, sekitar pukul 19.00 wib para peserta mulai berdatangan. walaupun saat itu kampus sedang diguyur hujan yang sempat membuat pesimis panitia hal ikhwal kemungkinan sedikitnya kehadiran para peserta untuk acara tersebut karena pengaruh cuaca. Akan tetapi setelah menunggu sekitar setengah jam, tak disangka sebagian besar kursi yang disediakan telah dipenuhi peserta dan telah mencukupi kuota peserta yang direncanakan panitia.
Sekitar pukul 19.45 wib acara pun dimulai oleh MC dengan perkenalan diri dan tak lupa memberikan gambaran umum tentang rangkaian acara Eco Ethnic Art Festival. Agenda pertama diawali dengan sambutan dari Izzudin selaku ketua pelaksana acara. Dalam sambutannya, Izzudin memberikan penekanan pada tema dari acara Eco Ethnic Art Festival. “acara ini kami persembahkan kepada khalayak IPB sebagai wujud dari usaha untuk merayakan multikulturalisme dan ekosentrisme, selain tentunya sebagai ruang untuk mengapresiasi karya seni dan budaya.” Tutur sang ketua pelaksana.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bayu A. Yulianto sebagai ketua dewan kurator WTSS. Pada kesempatan itu mas Bayu, yang juga merupakan staf pengajar di FISIP UI Depok, mengatakan “walaupun acara ini belum mendapat restu dari pihak rektorat, kita harus terus melanjutkan acara hingga selesai dengan segala kesederhanaan dan kekurangan yang kita miliki tanpa mengurangi apresiasi kita terhadap karya seni”.
Sambutan terakhir disampaikan oleh Ace Sumanta dan sekaligus membuka acara Eco Ethnic Art Festival secara simbolis. Pak Ace, begitu sapaan sehari-harinya, merupakan perwakilan dari Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor. Dalam sambutannya Pak Ace banyak menceritakan tentang keterlibatan civitas akademika IPB dalam sejarah kesusastraan Bogor. “ wajar saja jika IPB diartikan oleh sebagian orang sebagai Institut Penulis Bogor, karena banyak dari lulusan IPB yang kemudian beraktivitas di kesusastraan” Tutur pak Ace. Beliau juga menyampaikan perihal sikap seorang penulis terhadap kritik atas suatu karya, “penulis ketimbang kritikus, saya katakan jauh lebih pintar penulisnya ketimbang kritikusnya. Kritikus hanya bisa melihat dari daunnya saja. Hal-hal yang sifatnya diluar, tidak bersifat yang lebih jauh ke dalam. Jadi jangan takut, ketika karya-karya teman-teman di kritik itu adalah suatu kebahagian dan suatu kewajaran.” Ujarnya.
Setelah acara di buka secara simbolis oleh Ace Sumanta, para peserta di hibur oleh penampilan tari yang dibawakan oleh Teris, seorang mahasiswa IPB yang telah lama bergelut di dunia tarian. Teris mencoba menyatukan berbagai kebudayaan tarian nusantara dari Sabang sampai Merauke ke dalam gerakan-gerakan yang dipadu-padankan dengan musik etnik yang mengiringinya. Para peserta begitu terpukau dengan penampilan Teris yang dibuktikan dengan tepuk tangan meriah yang diberikan untuk Teris di akhir penampilannya. Setelah itu, giliran Komunitas Ladang Seni mempertunjukkan skill permainan gitar mereka. Diawali dengan penampilan Redi dan Tyson yang menyanyikan sebuah lagu ber genre Rock nd Roll dan disusul dengan penampilan instrumen gitar dari Tyson dan Ozzo.
Setelah penonton dimanjakan dengan dua penampilan kesenian (Tari dan Musik) saatnya para pelukis dan fotografer yang mengisi pameran seni rupayang merupakan salah satu rangkaian acara Eco Ethnic Art Festival, maju ke podium untuk mempresentasikan karya-karya mereka. Diawali dengan prolog dari F. A. Karim yang mencoba mendeskripsikan penghayatannya dari beberapa karya lukisan dan fotografi, lalu dilanjutkan dengan penjelasan maksud dari lukisan dan fotografi yang dipaparkan oleh masing-masing pelukis dan fotografer.“Menurut saya lukisan menggambarkan orang yang melukisnya, karena sebuah lukisan tercipta banyak dipengaruhi oleh pengalaman si pelukisnya.” Tutur kaka, salah seorang pelukis yang turut serta dalam pameran seni rupa Eco Ethnic Art Festival.
Sebagai sajian penutup acara Opening Ceremony Eco Ethnic Art Festival, Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra mempersembahkan sebuah karya deklamasi koor berjudul Komposisi Kosong karya F. A. Karim, yang dibawakan oleh New Essemble Darmaga. “Karya ini tersajikan karena saya yang begitu oportunis dengan memanfaatkan orang-orang yang sudah ‘jadi’. Namun saya berharap, Karya ini bisa mengeksplorasi banyak hal.” Tutur Pak Dhe, sapaan akrab dari F. A. Karim. [Izzudin]



Semoga acara seperti ini bisa bertahan di tengah keriuhan budaya pop.
BalasHapusmasih kurang nih, nada, bedah buku sama tari belum masuk
BalasHapus