Mengamati pameran yang diadakan Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra (WTS) selama sepekan lalu di Institut Pertanian Bogor merupakan hal yang menarik. Pameran sebagai suatu kegiatan penyajian karya seni rupa yang dikomunikasikan, menjadi simbol eksistensi serta ‘ruang bicara’ seniman dan karyanya, dengan pihak publik sebagai apresiator. Kegiatan ini selain menjadi pemicu juga berperan sebagai alat ukur apresiasi seni masyarakat kampus IPB Dramaga.
Pameran Seni Rupa dan Fotografi, sebagai bagian rangkaian acara Eco Ethnic Art Festival ini berlangsung pada tanggal 8-13 November 2010 dan bertempat di Koridor Tanah, Fakultas Pertanian, IPB. Pameran seluruhnya menampilkan karya mahasiswa IPB. Enam perupa yang turut berpartisipasi yaitu Fahmi Fauzi, Maria Agustina Kaka, Mutiah Nurjannah, Pratitou Arafat dan Yudha Kartana Putra. Terdapat pula pameran fotografi yang merupakan pameran tunggal dari Andi Nugraha Cahyana. Pameran Seni Rupa dan Fotografi kali ini tidak mengambil tema khusus. Seniman diberi kebebasan dalam proses kreatifnya. Karenanya, karya yang ditampilkan beragam dan memiliki ide tersendiri.
Merupa Ide dan Rasa
Para pelukis menuangkan gagasan yang beragam pada karya mereka masing-masing. Fahmi Fauzi mencoba menyampaikan pesan keadilan melalui karya lukis berjudul ‘No Hero’, dengan simbolisasi wajah Joker yang merobek lambang Batman. Ide yang disampaikan diolah melalui gaya pop art dengan menggunakan media kanvas dan bubur kertas. Hal ini menjadikan karya menyerupai relief sehingga menarik perhatian pengunjung.
(Fahmi Fauzi, No Hero, 2010, akrilik di atas bubur kertas dan kanvas, 50x50 cm) |
Yudha Kartana Putra menghadirkan gambaran dengan tema yang beragam. Dari lukisannya nampak ia berusaha mengasah penguasaan tekniknya dengan beragam gaya. Karyanya dipengaruhi seni modern pada umumnya saat ini, dimana condong kepada pop art dan gambar dekoratif, namun ada juga berupa pemandangan alam.
| (Yudha K. Putra, Melihat Alam, 2010, akrilik di atas kanvas, 40x30 cm) |
Ungkapan emosi nampak dari goresan berani krayon Pratitou Arafat. Gambar-gambar imajinatifnya seolah merupakan ‘perayaan kebebasan’ dirinya dan masyarakat Aceh, dimana budaya asal tersebut mengakar kuat dalam dirinya.
| (Pratitou Arafat, 2010, krayon di atas kertas) |
Dari enam gambar yang ditampilkan, sebagian besar karya Pratitou menggambarkan perempuan Aceh yang sedang bermusik dan menari lepas. Berbagai warna cerah digunakan dan dicampur membuat gambar yang menyerupai gambar anak-anak tersebut terlihat ceria dan meriah.
Lukisan Maria Agustina Kaka merupakan representasi kontemplatif pengalaman yang disampaikan dalam gambaran yang mewakilinya. Dari tujuh karya yang ada, lima lukisan bergaya impresionis, dengan warna dan sapuan kuas yang khas.
| (Maria A. Kaka, Dua Merak, 2010, cat minyak di atas kanvas, 60x90 cm) |
Selain itu dua karya lainnya menyerupai abstrak, dimana pelukis masih mencoba mengekplorasi antara bentuk dan abstrak. Memaknai lukisan-lukisan Maria A. Kaka memerlukan proses penghayatan yang lebih, karena makna yang terkandung dibungkus halus dengan rupa yang estetik.
| (Maria A. Kaka, Berlindung-Terlindung, 2010, cat minyak di atas kanvas, 50x60 cm) |
Berbeda dengan karya imaginatif pelukis lainnya, Mutiah Nurjannah bertekun pada jalur mooi indie yang menggambarkan pemandangan alam. Karya-karyanya yang tenang dan sederhana menyajikan pemandangan tepi danau, laut, serta suasana timur tengah. Ada pula satu karyanya yang berupa gambar dekoratif hati, representasi kenangan kasih akan ibunya.
| (Mutiah Nurjannah, Dark Blue Sky, 2009, akrilik di atas kanvas, 90x60 cm) |
Melukis Alam dengan Cahaya
Fotografi, dimana secara harafiah dapat dikatakan ‘melukis dengan cahaya’ merupakan bidang yang digemari anak muda masa kini. Di era digital saat ini, teknologi memberi beragam kemudahan dan fleksibilitas. Namun, persoalan teknik seperti pengaturan cahaya, fokus, dan sebagainya merupakan prasyarat yang harus dikuasai dan senantiasa dipelajari untuk menjadi seorang fotografer. Hal ini nampak pada foto karya Andi Nugraha Cahyana dimana memiliki komposisi yang cukup baik dan fokus yang akurat.
| (Andi N Cahyana, 2010) |
Sebagian besar karya Andi adalah potret lanskap alami. Pada beberapa fotonya, Andi mengambil obyek dengan bermain teknik, cahaya dan bayangan, serta ketepatan momen. Selain itu, pengaturan jarak dan fokus dari vokal obyek memberi empasis yang menjadi ciri dari fotografi Andi kali ini. Pengambilan perspektif lanskap disiasati dengan menciptakan ruang kosong yang menimbulkan kesan kesunyian, ketenangan obyek lanskap itu sendiri.
Koridor sebagai jalur sirkulasi penghubung, merupakan ruang publik kampus yang ramai dilalui. Berpameran di koridor merupakan hal yang menarik karena pengunjung bukan hanya mereka yang sengaja mengunjungi pameran, namun juga mereka yang ‘tidak sengaja’ lewat lalu melihat-lihat atau hanya melihat sekilas. Dari sini dapat dilihat tingkat ketertarikan masyarakat kampus, dimana berkaitan cita rasa personal akan seni rupa dan fotografi.
Pameran seni rupa dan fotografi hampir setiap harinya dihadiri oleh lebih dari seratus pengunjung. Pameran ramai dengan jumlah pengunjung yang lebih besar pada hari aktif perkuliahan. Pemanfaatan koridor sebagai ruang pamer menciptakan atmosfer baru, seolah menghidupkan suasana koridor dan sekitarnya, dimana juga menarik mahasiswa untuk berkumpul di sekitar Koridor Tanah yang tergolong sepi kesehariannya.
| Literatur seni rupa dan fotografi disediakan Komunitas WTS bagi pengunjung pameran. |
Pameran di koridor diselenggarakan secara sederhana karena minimnya dana. Partisi dan meja pamer membelah linear koridor, sehingga karya dapat dilihat dari dua sisi. Karya lukis dan gambar ditampilkan pada partisi yang diselubungi kain hitam, sedang foto diletakan dalam pigura di atas meja. Tidak ada lampu sorot layaknya pameran seperti di galeri. Penyinaran bergantung pada cahaya matahari karena penerangan di koridor hampir tidak ada. Karenanya, umumnya pengunjung hanya dapat menikmati karya hingga pukul 4 sore.
Selain karya, terdapat pula buku dan majalah seni rupa dan fotografi serta katalog lukisan yang disediakan dan dapat dibaca pengunjung di tempat. Selain sebagai area pamer, koridor sekaligus barfungsi menjadi ruang baca. Suasana santai mewarnai, dimana pengunjung dapat membaca sambil berdiri, duduk di bangku, hingga lesehan di lantai. Kegiatan ini tidak mengganggu mereka yang lalu lalang atau beraktivitas lain di koridor. Koridor, sebagai ruang publik tetap menjadi ruang bersama masyarakat kampus.
Apresiasi : Rupa, Rasa, hingga Raba
‘Bagus dan indah’. Itulah tanggapan dominan pengunjung akan karya yang dipamerkan. Penilaian ini menjadi subyektif ketika pendefinisian individu akan estetika dan seni begitu plural dan beragam. Seni sendiri tidak selalu dibatasi oleh keindahan, dimana estetika sendiri terdiri dari nilai positif dan negatif. Pemberian penilaian tersebut sebenarnya terkait dengan cita rasa dan sosio historis pengalaman pengunjung akan karya seni. Disini, subyek estetika, yaitu masyarakat kampus IPB cenderung memiliki referensi karya yang minim. Inilah yang ingin ‘dikayakan’ komunitas WTS dengan mengadakan pameran serta penyajian literatur seni rupa dan fotografi.
Menanggapi karya rupa (lukis maupun fotografi) berkaitan dengan proses pengindraan dan penghayatan. Pengindraan dan pencerapannya berhubungan dengan aktivitas mengamati karya. Hal ini membutuhkan waktu untuk mencapai pemaknaan, dan sulit tercapai pada pengunjung yang pengamati singkat. Proses penyerapan, pendugaan, hingga pemberian arti bekerja dengan bantuan nalar dan emosi, dimana semuanya bergantung pula pada kepekaan penghayat.
| Pengunjung pameran mengamati lukisan yang disertai dengan peringatan ‘Jangan Disentuh’ di Koridor Tanah, Rabu (10/11). |
Apresiasi karya juga berhubungan dengan penghargaan akan seni itu sendiri. Hal ini terasa minim pada diri sebagian pengunjung. Tidak jarang mereka meraba lukisan meskipun telah diberi memo peringatan ‘Jangan Disentuh’. Lukisan dan fotografi yang merupakan karya rupa yang seharusnya ditanggapi secara visual, disini menyimpang penikmatannya menjadi raba. Budaya dan etika dalam menghadiri pameran inilah yang juga perlu dibangun pada masyarakat kampus IPB.
acaranya guntur romli juga belommasuk nih..
BalasHapusDear Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra selamat dan sukses atas Pameran Lukisan Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra, ijinkan kami memperkenalkan http://www.melukis.net, kami menerima dan mengharapkan kerjasama dari pihak lukisan.info semoga bersama-sama dapat mengembangkan komunitas melukis Indonesia, dan bagi teman-teman yang gemar melukis, silahkan bergabung di http://www.melukis.net
BalasHapus