Kamis, 19 Mei 2011

ORASI KEBUDAYAAN : Kesadaran Bersama Terhadap Sesuatu Yang Berbeda

 Rangkaian kegiatan Eco Ethnic Art Festival 2010 ditutup dengan sebuah kegiatan yang bertajuk orasi kebudayaan. Kegiatan ini merupakan sebuah dialog terbuka yang mencoba mengangkat permasalahan multikulturalisme pada tataran teori dan praktik. Pembicara utama dalam kegiatan ini adalah M. Guntur Romli, seorang aktivis dari jamaah islam liberal (JIL). JIL adalah sebuah media diskusi yang mengkaji mengenai persoalan agama, terutama agama islam. Keberadaan JIL di Indonesia cukup kontroversial, banyak pihak yang menentang keberadaan kelompok ini. Barang kali hal inilah yang sempat membuat kami merasa khawatir untuk mengundang mas Guntur sebagai pembicara dalam kegiatan orasi kebudayaan. Kekhawatiran kami cukup beralasan karena di lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor terdapat beberapa kelompok fundamentalis agama islam yang secara jelas menentang keberadaan JIL di Indonesia. 

Terlepas dari kekhawatiran kami terhadap kelompok fundamentalis yang ada di IPB, kegiatan orasi kebudayaan tetap dilaksanakan pada tanggal 21 november 2010. Kegiatan ini terlaksana dengan lancar walaupun anemo dari masyarakat IPB sangat kurang. Persoalan mengenai multikuralisme seharusnya menjadi topik yang menarik bagi masyarakt IPB, karena persoalan ini sangat dekat dan dialami langsung oleh masyarakat IPB. IPB mempunyai komposisi masyarakat yang beragam, baik dari segi suku, agama, budaya maupun latar belakang. Keragaman ini tentunya berpotensi menimbulkan sesuatu yang berkaitan dengan persoalan multikulturalisme.

Persoalan multikulturalisme perlu kiranya untuk dikaji kembali, karena persoalan ini sering diselewengkan oleh beberapa pihak. Sehingga sering memunculkan kekacauan, kerusuhan, pertikaian atau diskriminasi. Pada dasarnya persoalan multikulturalisme adalah kesadaran bersama terhadap sesuatu yang lain atau berbeda. Perbedaan adalah sesuatu yang seharusnya menjadi kekuatan bersama, bukan malah sebagai sesuatu memecah belah atau melemahkan. Kurangnya kesadaran bersama mengenai hal tersebut membuat sebagian orang berupaya untuk memaksakan kehendaknya.

Ruang publik sebagai sebuah manifestasi dari multikulturalisme seharusnya menjadi media bersama dan mampu menumbuhkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menghormati perbedaan. Namun kenyataan yang ada berbeda, ruang publik telah dikuasai oleh kelompok tertentu dan digunakan sebagai media untuk memaksakan cara pandang dan sikap hidupnya. Guntur memaparkan bahwa penguasaan ruang publik oleh suatu kelompok adalah suatu kegiatan pembodohan terhadap masyarakat umum. Dampak negatif penguasaan ruang publik oleh sebagian orang pernah dialami oleh JIL, stigma negatif masyarakat terhadap JIL adalah akibat dari pemaksaan cara pandang suatu kelompok tertentu yang tidak sepakat dengan keberadaan JIL. Masyarakat umum cenderung memandang JIL sebagai sebuah kelompok sesat, berjaringan luas dan berupaya untuk merusak akhlak masyarakat. Padahal kalau kita lihat kembali JIL adalah sebuah kelompok diskusi mengenai persoalan agama yang beranggota cuma dua orang.

Orasi kebudayaan yang dilaksanakan terasa kurang greget, karena sebagian besar yang hadir adalah orang-orang yang mempunyai pandangan yang sama mengenai multikulturalisme. Sebenarnya kami mengharapkan ada beberapa peserta yang mempunyai pandangan yang berbeda mengenai persoalan yang diangkat, sehingga dialog yang dilaksanakan lebih hidup. Ketidakhadiran orang-orang tersebut sempat menimbulkan tanda tanya yang besar, karena orang-orang tersebut sering menyerukan hal-hal yang menentang multikulturalisme di lingkungan IPB. Dialog menjadi menarik ketika Faesal Kamandobat memberikan gambaran yang berbeda mengenai multikulturalisme, Faesal memaparkan bahwa persoalan multikulturalisme sudah dihayati oleh masyarakat Indonesia pada jaman dahulu. Penghayatan multikulturalisme pada masyarakat Indonesia terlihat dari kebudayaan dan banguanan peninggalan kerajaan yang ada di Indonesia. Yang perlu dilakukan oleh masyarakat Indonesia sekarang adalah melihat kembali sejarah bangsanya dan menghayatinya, tidak perlulah terlalu berkiblat terhadap dunia barat.

Orasi kebudayaan yang telah dilaksanakan memberikan gambaran baru kepada kami mengenai persoalan mulikulturalisme dan cara menyikapinya. Persoalan mengenai mutikulturalisme akan selalu ada, karena pada dasarnya masing-masing orang berbeda. Perbedaan yang ada harus diimbangi dengan kesadaran bersama dalam cara pandang dan sikap hidup, bukan malah dijadikan sebagai alasan untuk memaksakan sesuatu. [Fahrudin S]

NADA KHATULISTIWA : Yang Masih Setia Merawat Kebudayaan

Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra pada November 2010 lalu menggelar serangkaian kegiatan seni dan budaya Eco Ethnic Art Festival sebagai bentuk perayaan atas multikulturalisme dan ekosentrisme. Rangkaian acara ini mencakup berbagai kegiatan seni dan budaya, mulai dari pertunjukan tari, puisi, teater, musik, pameran buku dan ruang baca, pameran lukisan dan fotografi sampai dengan orasi kebudayaan. Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua minggu di Kampus IPB Dramaga, Bogor. Salah satu acara dari kegiatan tersebut adalah pertunjukan musik yang bertajuk Nada Khatulistiwa. Persada Etnika merupakan satu-satunya kelompok musik yang mengisi pertunjukan pada malam 18 November 2010. Kelompok musik dengan 6 orang anggota yakni 4 orang pemusik, 1 orang penari dan 1 orang pembaca puisi ini berpijak pada unsur-unsur tradisi. Hal ini terlihat dari penggunaan alat musik tradisional, alat musik perkusi, iringan vokal, gerak khas tarian Jawa dan Sulawesi Tengah, serta syair-syair yang menggunakan bahasa daerah.
(Kelomppok Persada Etnika)
Pertunjukan yang berlangsung di Auditorium Sylva Pertamina Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor ini dihadiri kurang lebih 40 penikmat seni yang berasal dari kalangan mahasiswa, perwakilan sanggar seni, dan wartawan surat kabar Bogor. Pertunjukan ini menawarkan sajian musik tradisi di tengah tren musik pop yang kini menjadi primadona remaja dengan syair cintanya yang mendayu-dayu. Persada Etnika mengajak penikmat seni untuk berani mencicipi rasa baru dalam bermusik. Karena tidak selamanya yang tradisi itu harus cepat-cepat ditinggalkan, malah sebaliknya yang tradisi itulah yang seharusnya dirawat dan tak henti dilestarikan. Bisa jadi inilah yang nantinya akan membuat kita “berbeda” dengan yang lainnya.
(Foto : Bagian dari Pertunjukan Nyanyian Bumi)
Nyanyian Bumi, judul komposisi andalan Persada Etnika yang disajikan malam itu ternyata telah diapresiasi oleh penikmat seni di lima kota sebelumnya. Komposisi ini merupakan bentuk ritual harmonisasi kehidupan. Pertunjukan yang berisi gambaran atas kesadaran manusia akan keberadaan alam dan cara menghargai semesta yang disajikan dengan simbolisasi gerak tari, musik, dan syair dalam lagu serta puisi ini, kemudian diperkuat dengan artistik panggung. Ruang pertunjukan yang mulanya formal disulap menjadi sebuah panggung dengan suasana yang sakral dan mistis, seolah-olah sebuah ritual tradisi akan digelar malam itu. Tata cahaya ruangan yang redup dengan lampu sorot merah dan biru dibeberapa titik semakin mendukung atmosfer yang berusaha dibangun oleh Persada Etnika. Langkah penari wanita yang mantap mengikuti bebunyian mengawali aksi Persada Etnika di atas panggung, membuat penonton khusyuk menikmati setiap gerakan yang diciptakan oleh sang penari dan menyimak syair-syair yang dinadakan. Keragaman bahasa yang digunakan dalam syairnya bukanlah sebuah hambatan untuk memahami kedalaman makna dan pesan yang ingin disampaikan. Sajian Persada Etnika malam itu jelas memunculkan ketergetaran, ada juga yang mengerutkan kening entah karena rasa penasaran di dada atau karena menunggu kejutan apalagi yang akan ditemui di tengah pertunjukan. Ketika satu per satu para pemain meninggalkan panggung sambil menyanyikan lagu dengan syair dalam bahasa Sulawesi Tengah secara bersama-sama, ketika itu pula terdengar tepuk tangan yang meriah dari penonton.
(Foto dari atas ke bawah : Diskusi dengan pemain usai pertunjukan - Pemain musik Persada Etnika - Penonton Nada Khatulistiwa)


Untuk mengobati rasa penasaran penonton terhadap pertunjukan Persada Etnika, pada akhir acara diadakan diskusi bersama para pemain. Selama kurang lebih 30 menit muncul beberapa pertanyaan yang dilontarkan baik mengenai proses kreatif “Nyanyian Bumi” maupun pandangan umum mengenai musik. Dengan begitu, penonton tak hanya membawa pulang keindahan bunyi yang masih lekat di telinga masing-masing namun malam itu persada etnika hadir sebagai bukti nyata bahwa ternyata masih ada yang setia merawat baik kebudayaan di tengan rimbun penyelewengan. (nurikanf)

Rabu, 18 Mei 2011

TARI NUSANTARA : Apresiasi terhadap Tari Tradisional Ditengah Laju Tari Barat

Tari nusantara merupakan salah satu rangkaian acara dari Eco Etnic Art Festival yang diselenggarakan pada hari Senin, 15 November 2010 bertempat di Auditorium Toyib Hadiwijaya Faperta IPB. Acara yang dimulai pada pukul 20.00 ini menampilkan tiga macam tarian yaitu tari Dasamuka Ning Smaradahana, tari Jaipong Bajidor Kahot, dan tari Cendrawasih.

Pertunjukan tari ini di buka dengan kejutan yaitu saat lampu menyala di panggung seorang penari Dasamuka tiba-tiba sudah berada diatas panggung dengan posisi tubuh kepala dibawah sedangkan kakinya diatas terlipat seperti saat bersila, tari yang ditarikan oleh tiga orang ini memiliki kekuatan pada gerak tubuh yang sangat dinamis berpadu dengan gerak lincah dan bertenaga. Tari ini dibawakan oleh para penari dari komunitas SEMUT (seni, musik, tari) dari Universitas Pakuan, Bogor. Tari yang menceritakan tentang Prabu Dasamuka atau yang lebih dikenal dengan Prabu Rahwana yang memiliki sepuluh macam wajah ini merupakan tari klasik yang ditarikan oleh tiga orang, namun prinsipnya bisa ditarikan sampai dengan sepuluh orang, lalu tari ini dipandu oleh seorang narator dan juga diiringi dengan alat musik yang walaupun minimal namun tetap bisa mengimbangi performance dari para penarinya. Dan tari dasamuka ini ditutup dengan klimaks yaitu dari salah satu penari yang memanjat tubuh penari lain lalu dengan gagah dan dengan mata menyalak kedepan penari tersebut kemudian berdiri diatas paha dan pundak penari dibawahnya yang duduk dengan posisi setengah berlutut. 

(Tari Dasamuka | Penari : Komunitas Semut Universitas Pakuan)
Pertunjukan tari ini dilanjutkan dengan tari jaipong “Bajidor Kahot” yang sudah dikreasikan oleh seorang koreografer dari bandung yang mengkomposisikan tari jaipong ini berbeda dengan tari jaipong tradisional. Tari jaipong tradisisonal yang biasa dipentaskan untuk hiburan di pedesaan saat hajatan masyarakat dengan gerakan – gerakan yang cukup erotik pada pentas ini tidak terlihat, mungkin hal ini yang membuat tari jaipong bajidor kahot terasa kurang bernyawa. Tari ini dibawakan oleh dua orang penari cantik yang meskipun berasal dari dua daerah yang berbeda yaitu dari Cirebon dan Bali, tetapi tetap menyuguhkan suatu yang layak untuk diapresiasi dan enak untuk dinikmati.

(Tari Bajidor Kahot | Penari : Anggota Gentra Kaheman IPB)
 Pertunjukan ditutup dengan tari Cendrawasih yang dibawakan oleh dua orang gadis dari Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD). Tari Cendrawasih ini merupakan Tari yang cukup unik, karena seperti yang telah diketahui bahwa burung Cendrawasih merupakan burung endemik Papua dan tentunya tidak ditemukan di pulau dewata Bali, karena memang menurut sejarahnya tari ini diciptakan dalam rangka mengikuti festival Yayasan Walter Spies oleh N.L.N Swasthi Wijaya Bandem yang juga sekaligus sebagai penata busananya. Tari ini menggambarkan mengenai kehidupan burung Cendrawasih di Pegunungan Papua pada masa birahi, karena pada musim kawin tersebut burung Cendrawasih jantan untuk menarik pasangannya harus cukup dewasa dan bisa menari dengan indah. Pejantan muda pada masa ini juga ikut dalam kompetisi untuk mendapatkan betina tetapi masih dalam tahap belajar untuk menari dengan meniru gerakan dari jantan yang lebih dewasa. Busana tari Cendrawasih ini juga ditata sedemikian rupa sehingga memperkuat dan memperjelas desain gerak yang diciptakan. Pengolahan gerak dan keluwesan dari dua penari cantik ini membuat penonton sempat berdecak kagum dan terpana melihatnya, karena walaupun sering melihat pertunjukan tari Bali tetapi hanya melihat dari layar kaca.  

(Tari Cendrawasih | Penari : Anggota Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma)
 Tari tradisional nusantara ditengah laju arus kreasi tarian barat seperti break dance dan capoera terbukti masih terus diapresiasi oleh anak – anak muda di Indonesia. Dengan banyaknya sanggar – sanggar tari tradisional Bali dan Jawa, membuka kesempatan bagi anak – anak untuk belajar dasar – dasar tari tradisional yang menjadi dasar acuan bagi terciptanya beraneka ragam tari kreasi seperti tari cendrawasih dan tari Jaipong Bajidor Kahot. [Hery S]

PERTUNJUKAN LAKON : Paradoks yang Membawa Kebaruan

Paradoks yang ditampilkan sebagai satu keutuhan, akan membawa sesuatu yang baru. Inilah yang ditawarkan dalam penampilan dua monolog dalam event Pertunjukan Lakon dalam helatan Eco Ethnic Art Festival yang diselenggarakan oleh Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra. Dua monolog yang disajikan oleh dua aktor kawakan, Nurika N. F. Manan dari Teater Savana dan Hendra Setiawan, juara festival monolog di ruang publik FTI 2010, dari Teater Kubur. Kedua aktor tersebut menampilkan monolog yang sangat bertolak belakang, dan dipertunjukkan secara beruntun dalam satu event.

‘Sesuatu’ yang selalu tertunda
Sebutlah aku sebagai sesuatu. Karena dengan itu aku bisa lepas, lepas dari perangkap pikiranmu, lepas dari muslihatmu. Lepas dari segala kata ganti, bahkan ‘aku’ sendiri.”
Itulah bait pertama dari Anityam Asukham Lokam, lakon yang diangkat dari puisi dengan judul yang sama karya F. A. Karim. Nurika dengan cerdas mengolah setiap bait, baris, bahkan kata dari puisi tersebut dengan semua piranti pertunjukan untuk menampilkan tafsir atas teks ini menurut sang aktor. Penyairnya sendiri telah membebaskan aktor dalam mengolah naskah. Maka dari itu, dengan indah sang aktor membentuk gerak, gestur, pelafalan dan akting secara keseluruhan berdasarkan dekonstruksi atas teks puisi tersebut.
(Monolog : "Anityam Asukham Lokam" | Aktor : Nurika NF Manan, Teater Savana)
Dalam monolog ini, Nurika memerankan empat tokoh: Narator, orang Indian, orang Dayak, dan orang Tengger. Tiap karakter memiliki keunikannya masing-masing tapi satu kesatuan. Lepas tapi terikat.Narator bercerita tentang ‘sesuatu’ yang tak pernah punya bentuk sejati. Sesuatu itu lepas. Ia bisa menjadi permulaan, wadah, isi, atau apapun itu, dan bukan ‘aku’. Sesuatu itu pun kemudian bergeser menjadi ibu bumi suku pedalaman Indian, keanekaragaman kehidupan Dayak, juga menjadi ketenangan yang menggelisahkan dalam kisah pengorbanan Roro Anteng dan Joko Tengger. Sebagaimana teks di tangan Derrida, sesuatu itu akan selalu tertunda maknanya.
Sesuatu telah di sana
di sana
dan akan di sana
di wilayah yang bebas dari indra dan makna,

Panggung gelap dengan ornamen serasah dan reranting kayu kering menjadi setting yang sesuai dengan tema lakon ini. Tata lampu pun ditata sederhana tapi memukau. Musik pengiring menggunakan musik yang sudah ada: Kitaro, Marc Antoine, Corvus Corax, juga Sujiwo Tejo yang dirasa cocok untuk mengiringi pemeranan setiap tokoh. Kombinasi unsur-unsur tersebut menjadikan penampilan Nurika sangat memukau. Namun, pertunjukan ini tak lepas dari kesalahan minor. Beberapa kali terlihat Nurika menutup mukanya padahal gerak tersebut terlihat tidak sesuai dengan naskah yang dibacakannya. Kemudian musik yang meleset, dan timing lampu yang kurang tepat sedikit membuat penonton terkejut. Namun daya magis yang dipancarkan Nurika tetap mampu membius penonton hingga akhir pertunjukan.

Identitas yang lebur
Monolog berjudul “Blank-blank” yang disajikan Hendra Setiawan berbeda 1800 dari yang disajikan Nurika. Monolog inilah yang menjadi juara Festival Monolog di Ruang Publik yang ketiga oleh FTI. Awalnya monolog ini sengaja diciptakan untuk disajikan di ruang publik. Hal ini awalnya menjadi kendala, bagaimana merubah setting panggung yang seharusnya ruang publik dipindah ke dalam ruangan. Akhirnya dibuat konsep ruang publik di dalam ruangan, yaitu dengan meniadakan batas antara penonton dan aktor.
Sebelum pertunjukan dimulai, penonton diminta untuk keluar dari ruangan selama 10 menit. Penonton pun masuk dan ruangan yang sebelumnya rapi menjadi kacau balau. Ruang gelap, hanya diterangi lampu sirine, lampu kilat dan satu lampu tembak. Kursi berjumpalitan seakan terkena gempa. Semua dibuat terhenyak. Tanpa disadari, Hendra masuk ke dalam ruangan bersama penonton. Ia pun langsung berakting dengan menyahut percakapan penonton dan membangun dramaturgi dari setiap celetukan dan perlakuan penonton.
(Konsep pertunjukan monolog ruang publik yang coba dipentaskan di dalam ruangan)
Siapa saya? Siapakah saya? Siapa?
Berkali-kali tokoh mempertanyakan tentang dirinya. Ia berlari kesana-kemari, bertanya pada siapapun yang ada di sana. Ia meracau dan membalas setiap celetukan. Yang ia dapatkan selalu nama yang lain. Terkadang ia adalah SBY, di tempat lain ia adalah Obama, bahkan ia pernah dijuluki ‘di bawah’. Ia selalu berubah, hingga ia bingung siapa sebenarnya dirinya. Nama-nama berkumpul, penuh di kepalanya. Kemudian ia terpikir untuk membongkar seluruh identitasnya untuk mencari dirinya. Ia berguling-guling, meronta-ronta meminta dilucuti seluruh pakaiannya. Satu dibuka, pakaian lain ada di dalamnya. Dibuka lagi, ada lagi. Begitu terus hingga akhirnya ia hanya mengenakan celana dan yang ia dapati, ia malah kehilangan dirinya.
(Monolog : "Blank-Blank" | Aktor : Hendra Setiawan, Teater Kubur)
Identitas sepertinya menjadi sesuatu yang tak pernah bisa dipastikan. Ia bagaikan seribu topeng yang dipasang dalam satu tubuh, berubah sesuai dengan apa yang terhampar di sekitarnya. Terasa sia-sia ketika aktor kelimpungan mencari jati diri sejatinya, ia hanya menemukan identitas-identitas yang sangat banyak dan akhirnya ia terjebak, tenggelam dalam lautan nama. Hendra menghadirkan makna ini ketika ia selesai melucuti seluruh pakaiannya, ia meminta penonton untuk memakaikan seluruh pakaiannya lagi dan ternyata penonton tidak mampu mengembalikannya seperti semula. Celana di tangan, baju yang hanya tersangkut di bahu, celana dalam di kepala, bahkan sepatu yang tergigit, menjadi analogi untuk penghancuran identitas. Pada akhirnya, aktor harus berkontemplasi dan menghayati keseluruhan identitas tersebut sebagai dirinya. Kompromi, barangkali perlu agar tidak terjebak dalam hal yang sia-sia.

Awalnya Hendra sempat mengalami kebingungan karena penonton kurang merespon penampilannya. Baru setelah seperempat jam, penonton menjadi responsif dan mau berpartisipasi dalam pertunjukan ini. Hendra mengakui bahwa penonton di IPB lebih berbobot dalam berceletuk tetapi lebih kaku. Mungkin karena sistem dan atmosfer pendidikan di IPB.
Penampilan kali ini berbeda dengan penampilan di ruang publik, karena di dalam ruangan Hendra bisa mengatur alat bantu pertunjukan seperti kostum, tata lampu dan suara. Pertunjukan ini juga menghadirkan video mapping, instrumen yang mampu menghadirkan bentuk videografis yang unik dan menawan.

Paradoks yang membawa kebaruan
Penampilan dua monolog ini membawa dua unsur yang sangat kontras. Pada penampilan pertama, Nurika membawakan lakonnya di panggung, dengan tata panggung yang dibuat untuk mendukung aktor agar penonton selalu terfokus padanya. Yang membedakan dari konsep monolog biasa adalah ia menggunakan puisi panjang sebagai naskahnya. Kata-kata yang cukup sulit untuk dihafal, diksi yang ketat dan metafora yang tak terbayangkan sebelumnya mampu menimbulkan unsur magis agar hadir secara penuh di panggung. Naskah seperti ini cukup sulit karena aktor bisa terjebak dalam teks sehingga sesekali aktor malah lebih mengingat-ingat teks dan kurang memaknai teks tersebut. Namun efek magis yang ditimbulkannya jika berhasil tak dapat diragukan lagi.
Kemudian Hendra membawakan monolog ruang publik pada penampilan kedua. Dalam lakon seperti ini, ia harus mampu merebut perhatian publik agar selalu memperhatikannya dalam situasi apapun. Lakon seperti ini membutuhkan improvisasi yang luar biasa karena penonton pun ikut terlibat dalam penampilannya. Efek yang dihasilkan adalah penonton benar-benar terhibur dengan merasa terlibat sehingga mampu memaknainya lebih dalam.
(Pertunjukan Lakon Eco Ethnic Art Festival)
Pihak penyelenggara dengan sengaja menampilkan kedua monolog tersebut dalam satu rangkaian untuk menunjukkan paradoks dalam penampilan monolog. Ternyata monolog tidak melulu satu orang tampil di pentas membawakan banyak tokoh dengan teks berupa percakapan seperti yang biasa dibawakan Butet Kertaredjasa di televisi. Barangkali dengan pertunjukan ini bisa membawa kesenian dalam hal ini teater terutama dengan banyaknya komunitas teater di IPB menjadi selangkah lebih maju. [Erry Wd]