Rangkaian kegiatan Eco Ethnic Art Festival 2010 ditutup dengan sebuah kegiatan yang bertajuk orasi kebudayaan. Kegiatan ini merupakan sebuah dialog terbuka yang mencoba mengangkat permasalahan multikulturalisme pada tataran teori dan praktik. Pembicara utama dalam kegiatan ini adalah M. Guntur Romli, seorang aktivis dari jamaah islam liberal (JIL). JIL adalah sebuah media diskusi yang mengkaji mengenai persoalan agama, terutama agama islam. Keberadaan JIL di Indonesia cukup kontroversial, banyak pihak yang menentang keberadaan kelompok ini. Barang kali hal inilah yang sempat membuat kami merasa khawatir untuk mengundang mas Guntur sebagai pembicara dalam kegiatan orasi kebudayaan. Kekhawatiran kami cukup beralasan karena di lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor terdapat beberapa kelompok fundamentalis agama islam yang secara jelas menentang keberadaan JIL di Indonesia.
Terlepas dari kekhawatiran kami terhadap kelompok fundamentalis yang ada di IPB, kegiatan orasi kebudayaan tetap dilaksanakan pada tanggal 21 november 2010. Kegiatan ini terlaksana dengan lancar walaupun anemo dari masyarakat IPB sangat kurang. Persoalan mengenai multikuralisme seharusnya menjadi topik yang menarik bagi masyarakt IPB, karena persoalan ini sangat dekat dan dialami langsung oleh masyarakat IPB. IPB mempunyai komposisi masyarakat yang beragam, baik dari segi suku, agama, budaya maupun latar belakang. Keragaman ini tentunya berpotensi menimbulkan sesuatu yang berkaitan dengan persoalan multikulturalisme.
Persoalan multikulturalisme perlu kiranya untuk dikaji kembali, karena persoalan ini sering diselewengkan oleh beberapa pihak. Sehingga sering memunculkan kekacauan, kerusuhan, pertikaian atau diskriminasi. Pada dasarnya persoalan multikulturalisme adalah kesadaran bersama terhadap sesuatu yang lain atau berbeda. Perbedaan adalah sesuatu yang seharusnya menjadi kekuatan bersama, bukan malah sebagai sesuatu memecah belah atau melemahkan. Kurangnya kesadaran bersama mengenai hal tersebut membuat sebagian orang berupaya untuk memaksakan kehendaknya.
Ruang publik sebagai sebuah manifestasi dari multikulturalisme seharusnya menjadi media bersama dan mampu menumbuhkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menghormati perbedaan. Namun kenyataan yang ada berbeda, ruang publik telah dikuasai oleh kelompok tertentu dan digunakan sebagai media untuk memaksakan cara pandang dan sikap hidupnya. Guntur memaparkan bahwa penguasaan ruang publik oleh suatu kelompok adalah suatu kegiatan pembodohan terhadap masyarakat umum. Dampak negatif penguasaan ruang publik oleh sebagian orang pernah dialami oleh JIL, stigma negatif masyarakat terhadap JIL adalah akibat dari pemaksaan cara pandang suatu kelompok tertentu yang tidak sepakat dengan keberadaan JIL. Masyarakat umum cenderung memandang JIL sebagai sebuah kelompok sesat, berjaringan luas dan berupaya untuk merusak akhlak masyarakat. Padahal kalau kita lihat kembali JIL adalah sebuah kelompok diskusi mengenai persoalan agama yang beranggota cuma dua orang.
Orasi kebudayaan yang dilaksanakan terasa kurang greget, karena sebagian besar yang hadir adalah orang-orang yang mempunyai pandangan yang sama mengenai multikulturalisme. Sebenarnya kami mengharapkan ada beberapa peserta yang mempunyai pandangan yang berbeda mengenai persoalan yang diangkat, sehingga dialog yang dilaksanakan lebih hidup. Ketidakhadiran orang-orang tersebut sempat menimbulkan tanda tanya yang besar, karena orang-orang tersebut sering menyerukan hal-hal yang menentang multikulturalisme di lingkungan IPB. Dialog menjadi menarik ketika Faesal Kamandobat memberikan gambaran yang berbeda mengenai multikulturalisme, Faesal memaparkan bahwa persoalan multikulturalisme sudah dihayati oleh masyarakat Indonesia pada jaman dahulu. Penghayatan multikulturalisme pada masyarakat Indonesia terlihat dari kebudayaan dan banguanan peninggalan kerajaan yang ada di Indonesia. Yang perlu dilakukan oleh masyarakat Indonesia sekarang adalah melihat kembali sejarah bangsanya dan menghayatinya, tidak perlulah terlalu berkiblat terhadap dunia barat.
Orasi kebudayaan yang telah dilaksanakan memberikan gambaran baru kepada kami mengenai persoalan mulikulturalisme dan cara menyikapinya. Persoalan mengenai mutikulturalisme akan selalu ada, karena pada dasarnya masing-masing orang berbeda. Perbedaan yang ada harus diimbangi dengan kesadaran bersama dalam cara pandang dan sikap hidup, bukan malah dijadikan sebagai alasan untuk memaksakan sesuatu. [Fahrudin S]


