Tari nusantara merupakan salah satu rangkaian acara dari Eco Etnic Art Festival yang diselenggarakan pada hari Senin, 15 November 2010 bertempat di Auditorium Toyib Hadiwijaya Faperta IPB. Acara yang dimulai pada pukul 20.00 ini menampilkan tiga macam tarian yaitu tari Dasamuka Ning Smaradahana, tari Jaipong Bajidor Kahot, dan tari Cendrawasih.
Pertunjukan tari ini di buka dengan kejutan yaitu saat lampu menyala di panggung seorang penari Dasamuka tiba-tiba sudah berada diatas panggung dengan posisi tubuh kepala dibawah sedangkan kakinya diatas terlipat seperti saat bersila, tari yang ditarikan oleh tiga orang ini memiliki kekuatan pada gerak tubuh yang sangat dinamis berpadu dengan gerak lincah dan bertenaga. Tari ini dibawakan oleh para penari dari komunitas SEMUT (seni, musik, tari) dari Universitas Pakuan, Bogor. Tari yang menceritakan tentang Prabu Dasamuka atau yang lebih dikenal dengan Prabu Rahwana yang memiliki sepuluh macam wajah ini merupakan tari klasik yang ditarikan oleh tiga orang, namun prinsipnya bisa ditarikan sampai dengan sepuluh orang, lalu tari ini dipandu oleh seorang narator dan juga diiringi dengan alat musik yang walaupun minimal namun tetap bisa mengimbangi performance dari para penarinya. Dan tari dasamuka ini ditutup dengan klimaks yaitu dari salah satu penari yang memanjat tubuh penari lain lalu dengan gagah dan dengan mata menyalak kedepan penari tersebut kemudian berdiri diatas paha dan pundak penari dibawahnya yang duduk dengan posisi setengah berlutut.
| (Tari Dasamuka | Penari : Komunitas Semut Universitas Pakuan) |
Pertunjukan tari ini dilanjutkan dengan tari jaipong “Bajidor Kahot” yang sudah dikreasikan oleh seorang koreografer dari bandung yang mengkomposisikan tari jaipong ini berbeda dengan tari jaipong tradisional. Tari jaipong tradisisonal yang biasa dipentaskan untuk hiburan di pedesaan saat hajatan masyarakat dengan gerakan – gerakan yang cukup erotik pada pentas ini tidak terlihat, mungkin hal ini yang membuat tari jaipong bajidor kahot terasa kurang bernyawa. Tari ini dibawakan oleh dua orang penari cantik yang meskipun berasal dari dua daerah yang berbeda yaitu dari Cirebon dan Bali, tetapi tetap menyuguhkan suatu yang layak untuk diapresiasi dan enak untuk dinikmati.
| (Tari Bajidor Kahot | Penari : Anggota Gentra Kaheman IPB) |
Pertunjukan ditutup dengan tari Cendrawasih yang dibawakan oleh dua orang gadis dari Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD). Tari Cendrawasih ini merupakan Tari yang cukup unik, karena seperti yang telah diketahui bahwa burung Cendrawasih merupakan burung endemik Papua dan tentunya tidak ditemukan di pulau dewata Bali, karena memang menurut sejarahnya tari ini diciptakan dalam rangka mengikuti festival Yayasan Walter Spies oleh N.L.N Swasthi Wijaya Bandem yang juga sekaligus sebagai penata busananya. Tari ini menggambarkan mengenai kehidupan burung Cendrawasih di Pegunungan Papua pada masa birahi, karena pada musim kawin tersebut burung Cendrawasih jantan untuk menarik pasangannya harus cukup dewasa dan bisa menari dengan indah. Pejantan muda pada masa ini juga ikut dalam kompetisi untuk mendapatkan betina tetapi masih dalam tahap belajar untuk menari dengan meniru gerakan dari jantan yang lebih dewasa. Busana tari Cendrawasih ini juga ditata sedemikian rupa sehingga memperkuat dan memperjelas desain gerak yang diciptakan. Pengolahan gerak dan keluwesan dari dua penari cantik ini membuat penonton sempat berdecak kagum dan terpana melihatnya, karena walaupun sering melihat pertunjukan tari Bali tetapi hanya melihat dari layar kaca.
| (Tari Cendrawasih | Penari : Anggota Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma) |
Tari tradisional nusantara ditengah laju arus kreasi tarian barat seperti break dance dan capoera terbukti masih terus diapresiasi oleh anak – anak muda di Indonesia. Dengan banyaknya sanggar – sanggar tari tradisional Bali dan Jawa, membuka kesempatan bagi anak – anak untuk belajar dasar – dasar tari tradisional yang menjadi dasar acuan bagi terciptanya beraneka ragam tari kreasi seperti tari cendrawasih dan tari Jaipong Bajidor Kahot. [Hery S]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar