Kamis, 19 Mei 2011

NADA KHATULISTIWA : Yang Masih Setia Merawat Kebudayaan

Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra pada November 2010 lalu menggelar serangkaian kegiatan seni dan budaya Eco Ethnic Art Festival sebagai bentuk perayaan atas multikulturalisme dan ekosentrisme. Rangkaian acara ini mencakup berbagai kegiatan seni dan budaya, mulai dari pertunjukan tari, puisi, teater, musik, pameran buku dan ruang baca, pameran lukisan dan fotografi sampai dengan orasi kebudayaan. Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua minggu di Kampus IPB Dramaga, Bogor. Salah satu acara dari kegiatan tersebut adalah pertunjukan musik yang bertajuk Nada Khatulistiwa. Persada Etnika merupakan satu-satunya kelompok musik yang mengisi pertunjukan pada malam 18 November 2010. Kelompok musik dengan 6 orang anggota yakni 4 orang pemusik, 1 orang penari dan 1 orang pembaca puisi ini berpijak pada unsur-unsur tradisi. Hal ini terlihat dari penggunaan alat musik tradisional, alat musik perkusi, iringan vokal, gerak khas tarian Jawa dan Sulawesi Tengah, serta syair-syair yang menggunakan bahasa daerah.
(Kelomppok Persada Etnika)
Pertunjukan yang berlangsung di Auditorium Sylva Pertamina Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor ini dihadiri kurang lebih 40 penikmat seni yang berasal dari kalangan mahasiswa, perwakilan sanggar seni, dan wartawan surat kabar Bogor. Pertunjukan ini menawarkan sajian musik tradisi di tengah tren musik pop yang kini menjadi primadona remaja dengan syair cintanya yang mendayu-dayu. Persada Etnika mengajak penikmat seni untuk berani mencicipi rasa baru dalam bermusik. Karena tidak selamanya yang tradisi itu harus cepat-cepat ditinggalkan, malah sebaliknya yang tradisi itulah yang seharusnya dirawat dan tak henti dilestarikan. Bisa jadi inilah yang nantinya akan membuat kita “berbeda” dengan yang lainnya.
(Foto : Bagian dari Pertunjukan Nyanyian Bumi)
Nyanyian Bumi, judul komposisi andalan Persada Etnika yang disajikan malam itu ternyata telah diapresiasi oleh penikmat seni di lima kota sebelumnya. Komposisi ini merupakan bentuk ritual harmonisasi kehidupan. Pertunjukan yang berisi gambaran atas kesadaran manusia akan keberadaan alam dan cara menghargai semesta yang disajikan dengan simbolisasi gerak tari, musik, dan syair dalam lagu serta puisi ini, kemudian diperkuat dengan artistik panggung. Ruang pertunjukan yang mulanya formal disulap menjadi sebuah panggung dengan suasana yang sakral dan mistis, seolah-olah sebuah ritual tradisi akan digelar malam itu. Tata cahaya ruangan yang redup dengan lampu sorot merah dan biru dibeberapa titik semakin mendukung atmosfer yang berusaha dibangun oleh Persada Etnika. Langkah penari wanita yang mantap mengikuti bebunyian mengawali aksi Persada Etnika di atas panggung, membuat penonton khusyuk menikmati setiap gerakan yang diciptakan oleh sang penari dan menyimak syair-syair yang dinadakan. Keragaman bahasa yang digunakan dalam syairnya bukanlah sebuah hambatan untuk memahami kedalaman makna dan pesan yang ingin disampaikan. Sajian Persada Etnika malam itu jelas memunculkan ketergetaran, ada juga yang mengerutkan kening entah karena rasa penasaran di dada atau karena menunggu kejutan apalagi yang akan ditemui di tengah pertunjukan. Ketika satu per satu para pemain meninggalkan panggung sambil menyanyikan lagu dengan syair dalam bahasa Sulawesi Tengah secara bersama-sama, ketika itu pula terdengar tepuk tangan yang meriah dari penonton.
(Foto dari atas ke bawah : Diskusi dengan pemain usai pertunjukan - Pemain musik Persada Etnika - Penonton Nada Khatulistiwa)


Untuk mengobati rasa penasaran penonton terhadap pertunjukan Persada Etnika, pada akhir acara diadakan diskusi bersama para pemain. Selama kurang lebih 30 menit muncul beberapa pertanyaan yang dilontarkan baik mengenai proses kreatif “Nyanyian Bumi” maupun pandangan umum mengenai musik. Dengan begitu, penonton tak hanya membawa pulang keindahan bunyi yang masih lekat di telinga masing-masing namun malam itu persada etnika hadir sebagai bukti nyata bahwa ternyata masih ada yang setia merawat baik kebudayaan di tengan rimbun penyelewengan. (nurikanf)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar