Paradoks yang ditampilkan sebagai satu keutuhan, akan membawa sesuatu yang baru. Inilah yang ditawarkan dalam penampilan dua monolog dalam event Pertunjukan Lakon dalam helatan Eco Ethnic Art Festival yang diselenggarakan oleh Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra. Dua monolog yang disajikan oleh dua aktor kawakan, Nurika N. F. Manan dari Teater Savana dan Hendra Setiawan, juara festival monolog di ruang publik FTI 2010, dari Teater Kubur. Kedua aktor tersebut menampilkan monolog yang sangat bertolak belakang, dan dipertunjukkan secara beruntun dalam satu event.
‘Sesuatu’ yang selalu tertunda
“Sebutlah aku sebagai sesuatu. Karena dengan itu aku bisa lepas, lepas dari perangkap pikiranmu, lepas dari muslihatmu. Lepas dari segala kata ganti, bahkan ‘aku’ sendiri.”
Itulah bait pertama dari Anityam Asukham Lokam, lakon yang diangkat dari puisi dengan judul yang sama karya F. A. Karim. Nurika dengan cerdas mengolah setiap bait, baris, bahkan kata dari puisi tersebut dengan semua piranti pertunjukan untuk menampilkan tafsir atas teks ini menurut sang aktor. Penyairnya sendiri telah membebaskan aktor dalam mengolah naskah. Maka dari itu, dengan indah sang aktor membentuk gerak, gestur, pelafalan dan akting secara keseluruhan berdasarkan dekonstruksi atas teks puisi tersebut.
| (Monolog : "Anityam Asukham Lokam" | Aktor : Nurika NF Manan, Teater Savana) |
Sesuatu telah di sana
di sana
dan akan di sana
di wilayah yang bebas dari indra dan makna,
Panggung gelap dengan ornamen serasah dan reranting kayu kering menjadi setting yang sesuai dengan tema lakon ini. Tata lampu pun ditata sederhana tapi memukau. Musik pengiring menggunakan musik yang sudah ada: Kitaro, Marc Antoine, Corvus Corax, juga Sujiwo Tejo yang dirasa cocok untuk mengiringi pemeranan setiap tokoh. Kombinasi unsur-unsur tersebut menjadikan penampilan Nurika sangat memukau. Namun, pertunjukan ini tak lepas dari kesalahan minor. Beberapa kali terlihat Nurika menutup mukanya padahal gerak tersebut terlihat tidak sesuai dengan naskah yang dibacakannya. Kemudian musik yang meleset, dan timing lampu yang kurang tepat sedikit membuat penonton terkejut. Namun daya magis yang dipancarkan Nurika tetap mampu membius penonton hingga akhir pertunjukan.
Identitas yang lebur
Monolog berjudul “Blank-blank” yang disajikan Hendra Setiawan berbeda 1800 dari yang disajikan Nurika. Monolog inilah yang menjadi juara Festival Monolog di Ruang Publik yang ketiga oleh FTI. Awalnya monolog ini sengaja diciptakan untuk disajikan di ruang publik. Hal ini awalnya menjadi kendala, bagaimana merubah setting panggung yang seharusnya ruang publik dipindah ke dalam ruangan. Akhirnya dibuat konsep ruang publik di dalam ruangan, yaitu dengan meniadakan batas antara penonton dan aktor.
Sebelum pertunjukan dimulai, penonton diminta untuk keluar dari ruangan selama 10 menit. Penonton pun masuk dan ruangan yang sebelumnya rapi menjadi kacau balau. Ruang gelap, hanya diterangi lampu sirine, lampu kilat dan satu lampu tembak. Kursi berjumpalitan seakan terkena gempa. Semua dibuat terhenyak. Tanpa disadari, Hendra masuk ke dalam ruangan bersama penonton. Ia pun langsung berakting dengan menyahut percakapan penonton dan membangun dramaturgi dari setiap celetukan dan perlakuan penonton.
“Siapa saya? Siapakah saya? Siapa?”
Berkali-kali tokoh mempertanyakan tentang dirinya. Ia berlari kesana-kemari, bertanya pada siapapun yang ada di sana. Ia meracau dan membalas setiap celetukan. Yang ia dapatkan selalu nama yang lain. Terkadang ia adalah SBY, di tempat lain ia adalah Obama, bahkan ia pernah dijuluki ‘di bawah’. Ia selalu berubah, hingga ia bingung siapa sebenarnya dirinya. Nama-nama berkumpul, penuh di kepalanya. Kemudian ia terpikir untuk membongkar seluruh identitasnya untuk mencari dirinya. Ia berguling-guling, meronta-ronta meminta dilucuti seluruh pakaiannya. Satu dibuka, pakaian lain ada di dalamnya. Dibuka lagi, ada lagi. Begitu terus hingga akhirnya ia hanya mengenakan celana dan yang ia dapati, ia malah kehilangan dirinya.
| (Monolog : "Blank-Blank" | Aktor : Hendra Setiawan, Teater Kubur) |
Awalnya Hendra sempat mengalami kebingungan karena penonton kurang merespon penampilannya. Baru setelah seperempat jam, penonton menjadi responsif dan mau berpartisipasi dalam pertunjukan ini. Hendra mengakui bahwa penonton di IPB lebih berbobot dalam berceletuk tetapi lebih kaku. Mungkin karena sistem dan atmosfer pendidikan di IPB.
Penampilan kali ini berbeda dengan penampilan di ruang publik, karena di dalam ruangan Hendra bisa mengatur alat bantu pertunjukan seperti kostum, tata lampu dan suara. Pertunjukan ini juga menghadirkan video mapping, instrumen yang mampu menghadirkan bentuk videografis yang unik dan menawan.
Paradoks yang membawa kebaruan
Penampilan dua monolog ini membawa dua unsur yang sangat kontras. Pada penampilan pertama, Nurika membawakan lakonnya di panggung, dengan tata panggung yang dibuat untuk mendukung aktor agar penonton selalu terfokus padanya. Yang membedakan dari konsep monolog biasa adalah ia menggunakan puisi panjang sebagai naskahnya. Kata-kata yang cukup sulit untuk dihafal, diksi yang ketat dan metafora yang tak terbayangkan sebelumnya mampu menimbulkan unsur magis agar hadir secara penuh di panggung. Naskah seperti ini cukup sulit karena aktor bisa terjebak dalam teks sehingga sesekali aktor malah lebih mengingat-ingat teks dan kurang memaknai teks tersebut. Namun efek magis yang ditimbulkannya jika berhasil tak dapat diragukan lagi.
Kemudian Hendra membawakan monolog ruang publik pada penampilan kedua. Dalam lakon seperti ini, ia harus mampu merebut perhatian publik agar selalu memperhatikannya dalam situasi apapun. Lakon seperti ini membutuhkan improvisasi yang luar biasa karena penonton pun ikut terlibat dalam penampilannya. Efek yang dihasilkan adalah penonton benar-benar terhibur dengan merasa terlibat sehingga mampu memaknainya lebih dalam.
![]() |
| (Pertunjukan Lakon Eco Ethnic Art Festival) |
Pihak penyelenggara dengan sengaja menampilkan kedua monolog tersebut dalam satu rangkaian untuk menunjukkan paradoks dalam penampilan monolog. Ternyata monolog tidak melulu satu orang tampil di pentas membawakan banyak tokoh dengan teks berupa percakapan seperti yang biasa dibawakan Butet Kertaredjasa di televisi. Barangkali dengan pertunjukan ini bisa membawa kesenian —dalam hal ini teater terutama dengan banyaknya komunitas teater di IPB— menjadi selangkah lebih maju. [Erry Wd]

good job for u all
BalasHapuslife is nothing without "art" :')
BalasHapus